Jumat, 17 Agustus 2012

ASKEP FRAKTUR TIBIA


FRAKTUR TIBIA

A.    Pengertian
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya. Fraktur dapat terjadi jika tulang dikenai stress yang lebih besar dari yang dapat diabsorbsi .
B.    Etiologi
Fraktur dapat disebabkan oleh
-    Cedera dan benturan seperti pukulan langsung, gaya meremuk, gerakan puntir mendadak, kontraksi otot ekstrim,
-    Letih karena otot tidak dapat mengabsorbsi energi seperti berjalan kaki terlalu jauh.
-    Kelemahan tulang akibat penyakit kanker atau osteoporosis pada fraktur patologis.
C.   Patofisiologis
Jenis fraktur :
§ Fraktur komplit adalah patah pada selurh garis tengah tulang dan biasanya mengalami pergeseran
§ Fraktur inkomplit, patah hanya terjadi pada sebagian dari garis tengah tulang.
§ Fraktur tertutup (fraktur simple), tidak menyebabkan robekan kulit.
§ Fraktur terbuka (fraktur komplikata/kompleks), merupakan fraktur dengan luka pada kulit atau membrana mukosa sampai ke patahan tulang. Fraktur terbuka digradasi menjadi : Grade I dengan luka bersih kurang dari 1 cm panjangnya dan sakit jelas, Grade II luka lebih luas tanpa kerusakan jaringan lunak yang ekstensif dan Grade III, yang sangat terkontaminasi dan mengalami kerusakan jaringan lunak ekstensi, merupakan yang paling berat.
Penyembuhan/perbaikan fraktur :
Bila sebuah tulang patah, maka jaringan lunak sekitarnya juga rusak, periosteum terpisah dari tulang dan terjadi perdarahan yang cukup berat. Bekuan darah terbentuk pada daerah tersebut. Bekuan akan membentuk jaringan granulasi, dimana sel-sel pembentuk tulang premitif (osteogenik) berdeferensiasi menjadi kondroblas dan osteoblas. Kondroblas akan mensekresi fosfat yang akan merangsang deposisi kalsium. Terbentuk lapisan tebal (kalus disekitar lokasi fraktur. Lapisan ini terus menebal dan meluas, bertemu dengan lapian kalus dari fragmen yang satunya dan menyatu. Fusi dari kedua fragmen terus berlanjut dengan terbentuknya trabekula oleh osteoblas, yang melekat pada tulang dan meluas menyebrangi lokasi fraktur.Persatuan (union) tulang provisional ini akan menjalani transformasi metaplastikuntuk menjadi lebih kuat dan lebih terorganisasi. Kalus tulang akan mengalami re-modelling dimana osteoblas akan membentuk tulang baru sementara osteoklas akan menyingkirkan bagian yanng rusak sehingga akhirnya akan terbentuk tulang yang menyerupai keadaan tulang aslinya.
D.   Manifestasi klinis
1.    Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang   diimobilisasi. Spasme otot yang menyertai fraktur merupakan bentuk bidai alamiah yang dirancang untuk meminimalkan gerakan antar fragmen tulang.
2.    Deformitas dapat disebabkan pergeseran fragmen pada fraktur lengan dan eksremitas. Deformitas dapat di ketahui dengan membandingkan dengan ekstremitas normal. Ekstremitas tidak dapat berfungsi dengan baik karena fungsi  normal otot bergantung pada integritas tulang tempat melengketnya obat.
3.    Pemendekan tulang, karena kontraksi otot yang melekat diatas dan dibawah  tempat fraktur. Fragmen sering saling melingkupi satu sama lain sampai 2,5 sampai 5,5 cm
4.    Krepitasi yaitu pada saat ekstremitas diperiksa dengan tangan, teraba adanya derik tulang. Krepitasi yang teraba akibat gesekan antar fragmen satu dengan lainnya.
5.    Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi akibat trauma dan perdarahan yang mengikuti fraktur. Tanda ini baru terjadi setelah beberapa jam atau beberapa hari setelah cedera.
E.  Komplikasi fraktur
-          Malunion, adalah suatu keadaan dimana tulang yang patah telah sembuh dalam posisi yang tidak pada seharusnya, membentuk sudut atau miring
-          Delayed union adalah proses penyembuhan yang berjalan terus tetapi dengan kecepatan yang lebih lambat dari keadaan normal.
-          Nonunion,  patah tulang yang tidak menyambung kembali.
-          Compartment syndroma adalah suatu keadaan peningkatan takanan yang berlebihan di dalam satu ruangan yang disebabkan perdarahan masif pada suatu tempat.
-          Shock,
-          Fat embalism syndroma, tetesan lemak masuk ke dalam pembuluh darah. Faktor resiko terjadinya emboli lemakada fraktur meningkat pada laki-laki usia 20-40 tahun, usia 70 sam pai 80 fraktur tahun.
-          Tromboembolic complicastion, trombo vena dalam  sering terjadi pada individu yang imobiil dalm waktu yang lama karena trauma atau ketidak mampuan lazimnya komplikasi pada perbedaan ekstremitas bawah atau trauma komplikasi paling fatal bila terjadi pada bedah ortopedil
-          Infeksi
-          Avascular necrosis, pada umumnya berkaitan dengan aseptika atau necrosis iskemia.
-          Refleks symphathethic dysthropy, hal ini disebabkan oleh hiperaktif sistem saraf simpatik abnormal syndroma ini belum banyak dimengerti. Mungkin karena nyeri, perubahan tropik dan vasomotor instability.
F.    Pemeriksaan penunjang
Laboratorium :
Pada fraktur test laboratorium yang perlu diketahui : Hb, hematokrit sering rendah akibat perdarahan, laju endap darah (LED) meningkat bila kerusakan jaringan lunak sangat luas. Pada masa penyembuhan Ca dan P meengikat di dalam darah.
Radiologi :
X-Ray dapat dilihat gambaran fraktur, deformitas dan metalikment. Venogram/anterogram menggambarkan arus vascularisasi. CT scan untuk mendeteksi struktur fraktur yang kompleks. 
G.   Penangganan fraktur
Pada prinsipnya penangganan fraktur meliputi reduksi, imobilisasi dan pengembalian fungsi dan kekuatan normal dengan rehabilitasi.
-          Reduksi fraktur berarti mengembalikan fragmen tulangpada kesejajarannya dan rotasi anatomis. Metode dalam reduksi adalah reduksi tertutup, traksi dan reduksi terbuka, yang masing-masing di pilih bergantung sifat fraktur
Reduksi tertutup dilakukan untuk mengembalikan fragmen tulang ke posisinya (ujung-ujung saling behubungan) dengan manipulasi dan traksi manual.
Traksi, dapat digunakan untuk mendapatkan efek reduksi dan imobilisasi. Beratnya traksi disesuaikan dengan spasme otot yang terjadi.
Reduksi terbuka , dengan pendekatan pembedahan, fragmen tulang direduksi. Alat fiksasi internal dalam bentuk pin, kawat, sekrup, plat, paku atau batangan logam dapat digunakan untuk mempertahankan fragmen tulang dalam posisinya sampai penyembuhan tulang yang solid terjadi.
-          Imobilisai fraktur, setelah fraktur di reduksi fragmen tulang harus di imobilisasi  atau di pertahankan dalam posisi dan kesejajaranyang benar sampai terjadi penyatuan. Immobilisasi dapat dilakukan dengan fiksasi eksternal atau inernal. Fiksasi eksternal meliputi pembalutan, gips, bidai, traksi kontinui, pin dan teknik gips atau fiksator eksternal. Fiksasi internal dapat dilakukan implan logam yang berperan sebagai bidai inerna untuk mengimobilisasi fraktur. Pada fraktur femur imobilisasi di butuhkan sesuai lokasi fraktur yaitu intrakapsuler 24 minggu, intra trohanterik 10-12 minggu, batang 18 minggu dan supra kondiler 12-15 minggu.
-          Mempertahankan  dan mengembalikan fungsi, segala upaya  diarahkan pada penyembuhan tulang dan jaringan lunak, yaitu ;
§  Mempertahankan reduksi dan imobilisasi
§  Meninggikan untuk meminimalkan pembengkakan
§  Memantau status neurologi.
§  Mengontrol kecemasan dan nyeri
§  Latihan isometrik dan setting otot
§  Berpartisipasi dalam aktivitas hidup sehari-hari
§  Kembali keaktivitas secara bertahap.
Faktor yang mempengaruhi penyembuhan fraktur :
-          Imobilisasi fragmen tulang.
-          Kontak frgmen tulang minimal.
-          Asupan darah yang memadai.
-          Nutrisi yang baik.
-          Latihan pembebanan berat badan untuk tulang panjang.
-          Hormon-hormon pertumbuhan tiroid, kalsitonin, vitamin D, steroid anabolik.
-          Potensial listrik pada patahan tulang.
H.   Diagnosa keperawatan
§  Nyeri berhubungan dengan fraktur
§  Resiko terhadap cidera berhubungan dengan kerusakan neurovaskuler, tekanan dan disuse
§  Kurang perawatan diri berhubungan dengan hilangnya kemampuan menjalankan aktivitas.
§  Resiko infeksi berhubungan dengan trauma
§  Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan patah tulang






I.      Perencanaan
Diagnosa Keperawatan
Tujuan
Intervensi
Rasional
Nyeri akut

















































Resiko Cidera
















Kurang perawatan diri






















Resiko infeksi
























Kerusakan mobilitas fisik
NOC outcome :
-Tingkatkan nyeri, kontrol nyeri, tingkat kenyamanan
-Efek distruptive
Clien outcome ;
-Skala nyeri menurun
-Klien merasa nyaman
-Kecukupan istirahat dan tidur.
-kemampuan aktivitas



































NOC :
Status keselamatan Injuri fisik
Client outcome :
-      Bebas dari cidera
-      Pencegahan Cidera









NOC :
Perawatan diri : ADL
Client outcome:
-      Pasien dapat melakukan aktivitas
-      Kebersihan diri pasien terpenuhi















NOC :
-      Status imun
-      Kontrol infeksi
-      Kontrol resiko
Client outcome:
-      bebas tanda infeksi
-       Sel darah putih dalam batas normal
















NOC :
-      Ambulasi :
-      Tingkat mobilisasi
-      Perawtan diri
Client outcome :
-Peningkatan aktivitas fisik

NIC :
1.Pain manajemen
-    Kaji kondisi nyeri
-    Observasi respon non verbal ketidaknyamanan.
-    Gunakan kkomunikasi teraupetik
-    Evaluasi pengalaman nyeri pasien
-    Kontrol lingkungan.
-    Meminimalkan faktor pencetus nyeri
-    Ajarkan teknik non farmakologi
-    Tingkatkan istirahat/tidur
-    Pastikan pasien menerima analgetik
-    Monitor pemberian analgesik.
2.Manajemen medikasi
-    Tentukan obat yang ditentukan sesuai dengan order.
-    Monitor efeksivitas pengobatan
-    Monitor tanda-tanda toxisitas.
-    Jelaskan pada pasien kerja dan efek obat.
-    Ajarkan pasien memperhatikan aturan pengobatan.
3.Penkes proses penyakit
-    Kaji tk. Pengetahuan pasien tentang Fraktur
-    Jelaskan patofisiologi fraktur
-    Jelaskan tanda, gejaa dan diskusikan terapi yang diberikan.
4.Manajemen Lingkungan
-      Batasi pengunjung
-      Pertahankan kebersihan tempat tidur.
-      Atur posisi paien yang nyaman

NIC :
Memberikan posisi yang nyaman unuk Klien:
-      Berikan posisi yang aman untuk pasien dengan meningkatkan obsevasi pasien, beri pengaman tempat tidur
-      Periksa sirkulasi periper dan status neurologi
-      Menilai ROM pasien
-      Menilai integritas kulit pasien.
-      Libatkan banyak orang dalam memidahkan pasien, atur posisi


NIC :
Bantuan perawatan diri
-      Monitor kemampuan pasien terhadap perawatan diri
-      Monitor kebutuhan akan personal hygiene, berpakaian, toileting dan makan
-      Beri bantuan sampai pasien mempunyai kemapuan untuk merawat diri
-      Bantu pasien dalam memenuhi kebutuhannya.
-      Anjurkan pasien untuk melakukan aktivitas sehari-hari sesuai kemampuannya
-      Pertahankan aktivitas perawatan diri secara rutin


NIC :
1.Kontrol infeksi
-      Batasi penginjung
-      Pertahankan kebersihan lingkungan
-      Ajarkan pasien teknik cuci tangan.
-      Cuci tangna sebelum dan sesudah kontak dengan pasien.
-      Gunakan teknik steril dalam perawtan luka.
-      Kelola antibiotik sesuai order
-      Pertahankankan intake nutrisi dan cairan.
-      Jelaskan tandan dan gejala infeksi
2. Pencegahan infeksi
-  Monitor tanda infeksi
-  Monitor hasil Lab.
- Jelaskan pada pasien cara pencegahan infeksi
3. Monitor vital sign


NIC :
1.Terapi ambulasi
-      Konsultasi dengan terapi untuk perencanaan ambulasi
-      Latih pasien ROM sesuai kemampuan
-      Ajarkan pasien berpindah tempat
-      Monitor kemampuan ambulasi pasien
2.    Pendidikan kesehatan
-      Jelaskan pada pasien pentingnya ambulasi dini
-      Jelaskan pada pasien tahap ambulasi

Manajemen nyeri yang diberikan diharapkan menekan stimulus/rangsangan terhadap nyeri sehingga nyeri pasien berkurang.










Memberikan pengobatan akan menekan stimulasi terhadap nyeri sehingga nyeri berkurang



Menghilangkan ansietas dan meningkatkan kerjasama dari pasien dan keluarga.


Menurunkan ketegangan otot dan memfkuskan kembali perhatian pasien










Bantuan perawatan diri dapat membantu klien dalam beraktivitas dan melatih pasien untuk beraktivitas kembali.












Meminimalkan invasi mikroorganisme penyebab infeksi











Mencegah adanya infeksi lanjutan







Melatih latihan gerak ekstremitas pasien serta mencegah adanya kontraktur sendi dan atropi otot

Daftar Pustaka
Brunner, Suddarth. 2002. Buku Ajar keperawtan medikal bedah, edisi 8 vol.3. EGC. Jakarta

Dep.Kres.RI 1995. Penerapan proses keperawatan pada klien dengan ganggua sistem muskuloskletal. Pusat pendidikan tenaga kesehatan Dep.Kes.RI. Jakarta

Joanne C.Mc Closkey. 1996. Nursing intervention classification (NIC). Mosby year book. St. Louis

Long. 1996. Perawatan medikal bedah. Yayasan ikatan alumni pendidikan keperawatan Padjajaran. Bandung.

Marion Johnon,dkk. 2000. Nursing outcome classification (NOC). Mosby year book. St. Louis

Marjory godon,dkk. 2000. Nursing diagnoses: Definition & classification 2001-2002. NANDA

Prince, Wilson. 1995. Patofisiologi konsep klinis proses-prpses penyakit , edisi 4, buku 2. EGC. Jakarta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar